JRU | Jaringan RumahUSAHA, Berprestasi dan Berbuat Baik | Berbagi Manfaat | Semarang Kreatif JRU | Jaringan RumahUSAHA, Berprestasi dan Berbuat Baik | Berbagi Manfaat | Semarang Kreatif

Merangsang Komunitas Bisnis Berjiwa Wirausaha

Saat ini adalah zamannya ekonomi berbasis kewirausahaan (enterpreneurship). Meski sebelumnya, menjadi enterpreneur kelas mikro / kecil bukanlah kebanggaan, tetapi setelah era konglomerasi tumbang dan terbukti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mampu bertahan - bahkan banyak diantaranya justru tumbuh - sektor inilah yang oleh banyak kalangan termasuk pemerintah justru menjadi tumpuan pemulihan ekonomi negeri ini.

Belangkangan bahkan muncul fenomena mengesankan, banyak kalangan muda usia tampak lebih menyukai membangun usaha sendiri kendati kecil daripada menjadi profesional di perusahaan besar milik orang lain. Hal demikian pasti akan memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi Indonesia, paling tidak dengan kondisi angka pengangguran yang tinggi ini kehadiran para pengusaha muda tersebut mampu memberikan lapangan pekerjaan.

Sekalipun persoalan pokok kewirausahaan juga belum tersentuh secara optimal, baik disadari oleh pemerintah maupun pelaku usahanya sendiri. Persoalan tersebut adalah masalah MENTAL! Menunggu peran pemerintah untuk bergerak menyentuh pembangkitan mental kewirausahaan rasanya lama sekali.

Berangkat dari kegelisahan yang sama guna merangsang bisnis berjiwa wirausaha, kumpulan beberapa usaha yang kebetulan semua bisnisnya masih menginduk di rumah ini menyatu dalam visi Jaringan "RumahUSAHA". Jaringan yang tiap waktu bertambah jumlah anggotanya ini adalah bukan sebagai lembaga komersial tapi sekaligus juga bukan lembaga swadaya masyarakat yang tujuan pendiriannya di bawah maksud-maksud politik tertentu. Tujuan pendiriannya murni 100% untuk pembangkitan kesadaran jiwa kewirausahaan untuk usaha siapapun, baik usaha kecil, mikro maupun kelas gurem!



Kumpul Komunitas di #IKISMG2

Semarang merupakan kota yang sedang berkembang dan banyak warna. Hal ini terlihat dari banyaknya komunitas yang eksis di kota Semarang. Mulai dari komunitas berbasis bisnis, komunitas hobi, komunitas olahraga maupun berbasis komunitas seni. Jumat dan Sabtu tanggal 3-4 Juni 2016 kemarin di Auditorium Undip Imam Bardjo, kurang lebih 100 komunitas dipertemukan dalam satu event,yaitu IKISMG2. 

IKISMG2 adalah event lanjutan dari IKISMG yang dulu diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 2014 di Balaikota Semarang. Kala itu, IKISMG diikuti oleh 60 an komunitas aktif kreatif lintas genre dan usia di Semarang. Berbekal spirit itulah, Nonoy Gerard yang menjadi salah satu motor penggerak dibalik event IKISMG kembali menghadirkan event IKISMG2 dengan mengumpulkan komunitas – komunitas di Semarang dalam jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya.

Di helatan IKISMG2 kemarin, Jaringan Rumah Usaha (JRU) juga turut berpartisipasi mengisi booth komunitas yang sudah disediakan dengan menampilkan beberapa unit bisnis, antara lain Ayune Hijab Semarang, Hikaru Anime Cloth, Shoeshe, Salma Undangan Semarang, dan Komik Soekirman. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Jaringan Rumah Usaha (JRU) bisa meramaikan event tersebut dan mempererat hubungan dengan komunitas-komunitas yang keren lainnya.

Selain mengenalkan komunitas-komunitas ini ke masyarakat di kota Semarang, nilai positif lain yang bisa didapatkan dari acara kumpul komunitas ini adalah terbangunnya komunikasi antara satu komunitas dengan komunitas yang lain. Sehingga yang awalnya tidak tahu menjadi tahu dan akhirnya saling berinteraksi untuk mengenal.

Ditunggu IKISMG3-nya Mas Nonoy, Sukses!

Catatan dari Pengajian Selapanan Prie Gs: Bersungguh-sungguh itu Penting

Rumah Sasongko, medium budaya dan komunitas baru di lingkungan JRU, pada Minggu (29/5) mendapat kehormatan dengan menjadi tuan rumah kegiatan pengajian budaya rutin yang diselenggarakan bersama oleh Ikamaba dan Prie Gs. Menghadirkan budayawan Prie Gs, pengajian inklusif bagi semua pemeluk keyakinan ini menghadirkan tema Ramadhan Tenanan. Catatan yang tersisa dari kegiatan tersebut terangkum dalam tulisan berikut.

Rumah bagi banyak orang adalah bentuk ekspresi dari pemiliknya. Tidak jarang mereka memberikan yang paling maksimal demi kenyamanan selama menghuni rumah itu. Tapi, tampaknya ini tidak berlaku untuk seorang Prie Gs. Rumah adalah sebuah laboratorium yang menjadikan budayawan ini tumbuh sejalan dengan keluarga kecilnya. Rumahnya yang dulu adalah pencapaian maksimal dari redaktur surat kabar dan pembicara yang diawali dengan honorarium plakat itu kecil dan tidak tampak ideal. Di situlah letak bagaimana seorang Prie Gs mengajarkan bagaimana kehidupan mereka harus memberikan makna bagi lingkungannya.

Hal itu tampak dari bagaimana seorang Prie Gs mengelola ketika rumahnya memasang keramik. Tergerak untuk memberikan pekerjaan bagi dua orang yang sedang berteduh di bawah pohon mangga yang menjadi turus jalan lingkungan. Dua orang yang jelas bukan ahlinya itu justru menghasilkan malapetaka arsitektural di tataran ideal. Di sinilah kecerdasan penghuninya teruji dengan mengubahnya menjadi sebuah medium rekreasi keharmonisan keluarga bahkan memberikan penekanan sudut pandang yang mendamaikan. Hasilnya? Dari rumah yang harmonis itulah kini mereka sekeluarga bisa mewujudkan rumah ideal yang merupakan akumulasi dari penghasilan Prie Gs sebagai pembicara publik berskala nasional.

Kesungguhan membangun sebuah nilai itu juga dicontohkan Prie Gs melalui seorang iLik sAs. Pria yang dikenal Prie Gs mengawali karier hubungan dengan menjadi penulis di harian di mana beliau menjadi redaktur. iLik dikenalnya sebagai orang yang sebenarnya tidak terlalu berbakat tetapi memiliki potensi yaitu berbisnis. Kesungguhan iLik membangun persahabatan sejalan dengan kesungguhannya mengajak Prie Gs untuk berbisnis. Pengalaman berbisnis mereka hampir seluruhnya berakhir gagal, tetapi di tangan mereka berdua ini justru menjadi catatan manis. Hasilnya? Sebuah komunitas yang dipandegani oleh iLik sAs dengan puluhan bisnis mikro yang menggerakkan.


Menutup pengajian, kedua narasumber yang tampil seakan berpesan kepada hadirin untuk memerhatikan alam. Prie Gs mencontohkan bagaimana penghargaan kawan kita di luar terhadap hewan yang ingin disembelih. Dari perlakuan yang baik itulah, tercipta daging dengan kualitas terbaik. Penghargaan terhadap alam juga akan memberikan kenyamanan kita hari ini dan warisan yang baik buat masa depan. Baik iLik dan Prie mencermati bagaimana situasi di sekitar Rumah Sasongko yaitu daerah Gombel yang kaya akan potensi alamiah. Di malam itu, ada inspirasi untuk mengingat kembali mata air dan menjaganya. 

Seni Theater Untuk Membangun Karakter Sukses


Rumah Belajar Jaringan Rumah Usaha pada tanggal 15 Mei 2016 kembali mengadakan kegiatan #SinauBareng. Kegiatan kali ini bersama Mas Whani Darmawan dari WhaniD Project yang membawa serta timnya yaitu Mbak Sondang P. Rumampea dan Mas Eko Santosa. Mengusung tema Seni Thaeter Untuk Membangun Karakter Sukses, acara hari itu berlangsung sangat seru.

Acara dibuka dengan saling memperkenalkan diri dari para peserta. Selanjutnya masuk sesi pertama yang diisi oleh Mas Whani Darmawan. Beliau bercerita banyak mengenai pengalamannya didunia seni peran. Bagaimana seni peran ini sangat dapat diaplikasian dalam kehidupan kita menjadi sorotan utama pada sesi pertama ini. Bagaimana menghidupkan otak turut menjadi topic bahasan yang sangat menarik.

Masuk ke sesi kedua yang diisi oleh Mas Eko Santosa. Sesi kali ini semakin seru karena Mas Eko membuka sesinya dengan cerita pengalaman yang membuat peserta sangat tertarik. Tawa canda mewarnai sesi kali ini. Ada beberapa perkataan menarik dari Mas Eko yang membuat mesti “mikir” diantara nya adalah “Saat ini yang dirindukan adalah KITA bukan AKU atau KAMU karena untuk membuat perubahan yang dibutuhkan adalah KITA” dan “Selalu junjung budaya kebersamaan dalam suka dan duka, budaya KITA mesti lebih digalakkan.

Masuk ke sesi Mbak Sondang, beliau menyampaikan bagaimana tetap bisa sukses ditengah kondisi yang sangat tidak baik. Mbak Sondang dibesarkan dilingkungan pengguna narkoba serta lingkungan yang keras. Peran ayahnya sungguh luar biasa yang memprotect anaknya hingga tetap bisa kuat ditengah lingkungan yang seperti itu. Beliau menyampaikan salah satu yang menyelamatkannya dari kondisi tersebut adalah buku.
Acara hari itu kian seru ketika memasuki sesi Theater Game. Peserta diajak bagaimana menjadi jujur, focus dan meminimalisir ke AKU an. Game memperagakan sebuah iklan pun turut dimainkan. Peserta diminta berkelompok dan bekerjasama memperagakan sebuah iklan.




#SinauBareng ditutup oleh Mas Whani dengan meditasi bersama. Dengan meditasi kita mampu mengakses gambaran-gambaran perisitiwa lalu untuk mendukung kita melangkah meraih masa depan.

Menikmati Proses


Setiap orang tentu menginginkan hasil dalam setiap usahanya. Proses yang cukup panjang tentu sering membuat bosan. Tapi tunggu, dalam sebuah proses untuk meraih sebuah hasil ada banyak pelajaran yang bisa kita dapat. Bahkan, sebuah kegagalan adalah sebuah proses untuk mendapatkan hasil berupa keberhasilan.

Kalimat-kalimat diatas mungkin sering kita dengar bila mengikuti seminar motivasi atau seminar bisnis. Namun, terkadang kita kurang meresapinya. Bisa jadi kalimat tersebut seketika membakar semangat kita untuk terus berjuang. Tapi, berapa lama efeknya ketika kita tidak sadar penuh dengan apa yang kita lakukan dalam sebuah proses? Tentu tak akan lama efeknya bila itu bersumber dari pihak lain.

Sebuah perjalanan panjang akan kita lalui untuk menuju sebuah hasil yang bernama kesuksesan. Kesadaran dalam sebuah perjalanan berproses inilah yang perlu kita miliki. Mengapa perlu? Dengan kesadaran tentu kita akan sangat tahu apa-apa yang kita lakukan. Bahkan, apa-apa resiko yang akan kita dapat pun akan terukur. Inilah yang disebut dengan pelajaran, sebuah tindakan yang diambil dengan tahu resikonya serta terukur adalah sebuah pelajaran untuk menentukan langkah-langkah kita berikutnya. Dengan kesadaran pula, kita akan lebih mampu mengontrol diri dari sisi  emosi. Kontrol diri ini penting agar kita lebih tenang dalam melangkah.

“Sang Jawara selalu berproses dan mengukur tindakan yang ia ambil diiringi ketenangan diri dalam mengambil keputusan”

Reza Aditya

Relawan Jaringan RumahUSAHA

Bersinergi dengan Komunitas OASE



Rasanya menjadi sebuah kehormatan bagi komunitas kami, Jaringan Rumah Usaha (JRU) apabila ada komunitas-komunitas yang berkenan untuk datang ke tempat kami. Tanggal 18 September 2015 lalu, rombongan para ortu dan anak-anak dari Jakarta menyempatkan berkunjung untuk bersilaturahmi ke komunitas Jaringan Rumah Usaha. Rombongan yang berangkat dari Jakarta menuju Semarang menggunakan kereta api ini adalah bagian dari komunitas OASE.

Salah satu motor penggerak di komunitas OASE adalah Mbak Mira Julia atau yang akrab disapa dengan Mbak Lala dan Mas Aar Sumardiono, suaminya, yang juga pengelola website www.rumahinspirasi.com. Komunitas ini terbentuk atas satu kesamaan yaitu, anak-anak dari anggota komunitas OASE ini sama-sama tidak mengenyam pendidikan formal di bangku sekolah. Dengan kata lain, homeschooling.

Kunjungan yang menjadi pertemuan perdana bagi ke-2 komunitas ini, menjadi ajang untuk saling berbagi cerita. Mas iLik sAs, salah satu founder JRU terlihat antusias sekali dengan kunjungan ini. Sebab secara tidak langsung, kedua komunitas ini bisa terhubung karena anak-anak Mas iLik juga belajar dengan cara homeschooling di komunitas yang lain.


Di satu sesi yang santai, kedua komunitas ini saling berbagi cerita mengenai pengalaman-pengalaman yang sudah dilalui.  Mas iLik berbagi cerita tentang perjalanannya membangun JRU, sedangkan Mas Aar dan Mbak Lala bercerita tentang komunitas OASE dan seputar perkembangan parenting.

Jangan berharap di sini ada suasana formal, anak-anak harus duduk mendengarkan orang tua. Sekalipun orang tua sedang saling berbagi pengalaman, anak-anak tetap menjalankan kegiatannya masing-masing. Ada yang asyik berlarian, ada yang asyik menari, ada yang asyik bermain, dan melakukan kegiatan lain sesuka hati mereka. Nah, di situlah terlihat kebebasan dan kemerdekaan dunia anak-anak.




Raker JRU ke – 12: Berpikir & Bertindak Produktif

Pada tanggal 31 Agustus 2015, bertempat di Hall Amarta III, Hotel Grand Candi Semarang. Seluruh keluarga besar Jaringan Rumah Usaha berkumpul untuk mengikuti agenda rutin yang di adakan setiap 6 bulan sekali, yaitu Rapat Kerja JRU.

Perjalanan Jaringan Rumah Usaha (JRU) semakin hari semakin memiliki tantangan yang berat. Yang awalnya JRU berasal dari beberapa orang saja, saat ini sudah mencapai 60 orang yang tergabung di komunitas ini. Sehingga sebagai sebuah keluarga besar harus bisa saling mendukung satu dengan yang lain serta menyatukan visi misi sehingga perjalanan di masa mendatang memiliki nafas yang sama.

Di Raker JRU yang ke -12 ini dijadikan sebagai momentum untuk transformasi dan estafet kepemimpinan, dimana transformasi ini di dominasi oleh relawan-relawan muda. Adalah Muhamy Akbar, yang saat ini menjabat Presiden Komunitas Jaringan Rumah Usaha menggantikan Ketua Komunitas periode sebelumnya, Dodot Agung. Muhamy Akbar menjadi generasi ke 3 dari perjalanan panjang Jaringan Rumah Usaha.  

Selain menyampaikan tentang laporan-laporan dan perkembangan yang terjadi di JRU selama 6 bulan terakhir, rapat kerja ini juga menjadi ajang diskusi yang menarik terkait dengan tema yang di usung kali ini yaitu “Berpikir & Bertindak Produktif”. Tema ini secara tidak langsung ingin mengingatkan kepada seluruh peserta raker untuk terus selalu bersyukur atas segala pencapaian dan terus merespon perkembangan-perkembangan yang terjadi. Ketika kita sudah memiliki penghasilan dan prestasi yang baik, langkah selanjutnya adalah jangan melupakan untuk berbuat baik kepada siapapun untuk memanjangkan prestasinya.

Selain menjadi momentum transformasi estafet, di raker ini Adhimas Nugroho memperkenalkan para penerima beasiswa Diploma Creativepreneurship, program kerjasama antara Jaringan Rumah Usaha dengan Universitas Stikubank. Para penerima beasiswa ini adalah teman-teman yang bekerja di unit-unit bisnis Jaringan Rumah Usaha yang tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah.

Mas iLik, di akhir acara raker memberikan penguatan kepada semua yang hadir. Topik yang menjadi sharing Mas iLik adalah tentang BATAS. Melalui sebuah video clip freestyler motor yang bisa mengendarai motor di tengah samudera, Mas iLik ingin menyampaikan bahwa di atas bumi ini keterbatasan adalah temporer. Tiap insan dapar melewati batas itu dengan satu modal, keyakinan. Melewati garis batas inilah yg kemudian mjd pembeda. Inilah yg dinamakan keberhasilan di dlm ruang aplikasi dr perencanaan kita.

"Jika kamu tidak tahan pedihnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.."


Ketika JRUkustik Tak Sendiri Lagi...

Layaknya tradisi Ramadhan kebanyakan, kegiatan berbuka puasa bersama menjadi ajang berkumpul dan bersilaturahim. Komunitas Jaringan RumahUSAHA juga memanfaatkan momentum Ramadhan untuk saling bersilaturahim sesama relawan yang selama ini berpisah ruang. Beberapa waktu lalu, JRU mengadakan buka puasa bersama di Rumah Belajar JRU Pondok Indraprasta.

Pada buka puasa bersama kali ini, JRUkustik sudah tidak tampil sebagai penampil tunggal seperti beberapa tahun sebelumnya. Kali ini, JRUkustik tampil bersama dengan dua kelompok akustik yang tumbuh di kalangan relawan JRU. JRUkustik yang kini digawangi Arif, Nofa, Berly, Benny, dan Fardan tetap menghibur audiens seperti biasanya. Usai mereka menggelar dua lagu pembuka sekaligus kata sambutan dari Ketua Komunitas JRU yang baru, Muhamy Akbar, tampil kawan-kawan baru yang ternyata juga berbakat bermusik akustik.

Mereka adalah Dea sebagai vokalis, Galuh yang menjadi gitaris sekaligus vokalis, Sukma sebagai bassis, dan Inul sebagai perkusi. Tampil dengan membawakan lagu perdana Sempurna yang pernah dipopulerkan oleh Andra and the Backbone, kelompok akustik baru ini memberi nuansa baru. "Grogi pasti, karena kami juga baru berlatih serius beberapa kali saja," ujar Sukma yang biasanya memegang pena elektronik sebagai ilustrator di Red Sugar Studio. Ya, kelompok akustik yang menamakan dirinya sebagai Adiknya JRUkustik ini berawal dari sekadar sering berkumpul dan sembarang memetik gitar. Berawal dari sembarang itulah, kelompok ini kemudian mulai serius mencoba belajar bermusik akustik di bawah bimbingan Kak Berly JRUkustik. Latihan mereka pun di Rumah Belajar usai menyelesaikan tugas pekerjaan.

Selain Adiknya JRUkustik, ada juga JRUnior yang beranggotakan generasi kedua relawan JRU. Terdiri dari anak-anak relawan JRU, kelompok yang diasuh oleh Nabila Narulita ini dibentuk sebagai salah satu cara unik kawan-kawan cilik ini mengisi liburan panjang kenaikan kelas. Diawali dengan komitmen latihan bersama setiap siang hari di Rumah Belajar, mereka kemudian menemukan komposisi yang lumayan apik sebagai sebuah kelompok musik akustik. Alat musk yang dimainkan pun beragam, mulai dari piano, biola, gitar, bahkan perkusi cajon yang ditepuk ritmis. Mereka memainkan dua lagu yaitu satu berbahasa Inggris, I Have a Dream milik ABBA dan satu lagi nomor milik DMasiv yaitu Jangan Menyerah. 

Momentum berbuka puasa bersama ini diakui oleh iLik sAs adalah momentum berbagi dan relaksasi dengan karyawan yang setiap hari berkutat dengan operasional bisnis. Melalui momentum seperti inilah, antara koordinator dan karyawan dapat bertemu dalam satu forum yang tanpa sekat. "Inilah forum relaksasi yang harus dimaknai bersama sebagai satu kesatuan tim, kita besar karena kita adalah tim yang baik," demikian disampaikan oleh Founder JRU tersebut dalam sambutan singkat membuka acara. 

Kelas Musik Pengisi Liburan Sekolah

Memasuki bulan puasa ramadhan ini, mayoritas kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan. Untuk mengisi liburan sekolah, di Rumah Belajar JRU Grha Salma Brotojoyo mengadakan kegiatan kelas musik untuk anak-anak dari Sedulur-sedulur  Jaringan Rumah Usaha.

Kelas yang rutin diadakan tiap hari ini selama bulan puasa ini di dampingi oleh Kak Berly dan Kak Nofa dari Jrukustik. Terhitung ada kurang lebih 10 anak yang ikut belajar di kelas ini. Mulai dari vokal, gitar, piano, biola dan kajon. Dikelas ini, anak-anak diajari untuk bermusik dalam sebuah format grup akustik. Mengikuti jejak kakak-kakaknya di Jrukustik yang juga berformat grup akustik.

“Tujuan diadakan kelas ini untuk melatih keberanian tampil di depan publik, melatih tanggung jawab masing anak-anak untuk belajar, meningkatkan kecerdasan dalam bermusik, dan meningkat ikatan batin antara masing-masing anak yang terlibat di dalamnya,” tutur Kak Berly. Senada dengan Kak Berly, Dodot Agung, salah satu relawan JRU yang ke-2 anaknya ikut dikelas musik ini menyampaikan respon positif. “Kegiatan ini sangat bagus sekali, karena selain mengisi liburan sekolah, anak-anak melalui kelas musik ini bisa belajar untuk meningkatkan skill bermusik”.

Tak hanya belajar musik semata, grup musik anak-anak ini nantinya juga akan perform di acara buka bersama yang diadakan oleh beberapa unit usaha di Jaringan Rumah Usaha. Ada 2 lagu yang sudah dipilihkan oleh Kak Berly dan Kak Nofa untuk dijadikan materi latihan oleh grup musik akustik anak-anak ini, yaitu lagu “I Have a Dream” yang dipopulerkan oleh Westlife feat Sherina dan lagu “Esok Kan Bahagia” yang dipopulerkan oleh artis-artis Musica Studio.

Menurut Nabila Narulita, salah satu peserta kelas musik, kegiatan pengisi liburan ini dijadikan sebagai ajang kumpul-kumpul dengan teman-teman yang lain dan juga sekaligus sebagai proses pembelajaran untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman yang lain dalam bermusik. Ini cerita dari Rumah Belajar Jaringan Rumah Usaha selama liburan Ramadhan, semoga kedepan bibit-bibit musisi ini bisa terus berbagi kebahagiaan dan memberikan manfaatnya melalui musik.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, semoga lancar sampai akhir dan mendapatkan banyak berkah di bulan ini. Amin.


Forum Wedangan ke-71: Kreativitas Berkelanjutan



Jumat (12/6) yang lalu, Jaringan RumahUSAHA kembali menggelar acara Forum Wedangan yang ke-71. Acara yang dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai macam latar belakang ini terasa sekali antusiasnya.  Ruangan Wisma Perdamaian yang biasanya digunakan untuk acara-acara formal, sore itu ditata dengan gaya khas Forum Wedangan yaitu lesehan komplit dengan jajanan pasar yang disajikan di sebuah tampah kecil.

Mengangkat tema tentang Kreativitas Berkelanjutan, acara yang dipandu iLik sAs ini menghadirkan narasumber antara lain Singgih Susilo Kartono, kreator dari radio kayu Magno dan Spedagi, bersama Imam Subchan, seorang pengusaha yang sukses mengelola usaha keluarga yaitu batik dan batu alam dan aktif sebagai konsultan branding di Dbrand Agency Consultant. Bukan Forum Wedangan namanya apabila tidak ada kejutan, sore itu Bambang Ismawan, pendiri Yayasan Bina Swadaya yang membidani kelahiran majalah Trubus, turut hadir berbagi cerita tentang pengalamanan wirausahanya. Tak ketinggalan, Prie GS yang turut hadir menyemangati kawan-kawan pengusaha dengan canda khasnya.

Adalah kegelisahan seorang Singgih Susilo Kartono yang mendapati keadaannya desanya yang menyedihkan ketika kala itu memutuskan pulang kampung di tahun 1994. Orang-orang memilih bekerja sebagai bagian dari industri dan berpindah ke kota. Jumlah petani-petani berkurang karena lebih memilih menjadi pekerja di kota. Desa menjadi tidak tergarap lagi dengan baik, yang ada alam menjadi rusak karena pengembangan dari industri-industri yang mulai tumbuh. Dengan gerakan bernama Pulang Kampung, Singgih berusaha menyampaikan pesan kepada semua orang bahwa masa depan itu ada di dekat kita.

Kehidupan ini adalah siklus, orang dari desa berpindah ke kota, di kota menemukan banyak sekali kebisingan yang akhirnya membuat orang kembali ke desa. Desa di masa depan menurut  Singgih adalah suatu tempat yang layak dan nyaman untuk ditinggali karena kemajuan teknologi dan informasi. Singgih bergerak dengan caranya yaitu salah satunya dengan berkarya melalui pembuatan radio Magno. Radio dari kayu yang dibuat di pelosok desa dengan wisdom dan filosofi namun di sisi lain menjadi sangat populer di dunia yang lain.

Tak hanya itu, Singgih melihat banyak potensi di desanya, yaitu berlimpah akan bambu. Dari bambu ini, Singgih berkreasi dengan memadupadankan menjadi rangka sepeda yang diberi label Spedagi. Misi dari Spedagi ini adalah untuk revitalisasi desa-desa yang kondisinya sudah menyedihkan. Berbeda dengan Magno, Spedagi ini tidak di ekspor. Singgih lebih menekankan mengekspor gerakannya daripada hanya sekedar produk. Adalah mimpi dari Singgih yang ingin Indonesia menyumbangkan sesuatu ke dunia dengan potensi yang dimilikinya. Dan melalui Spedagi ini, misi utamanya untuk menjadikan sebagai global movement, revitalisasi desa.

Di satu sesi yang lain, Imam Subchan menceritakan bahwa entrepreneur menjadi hobi yang menyenangkan buatnya. Karena apabila situasinya tidak happy, menjadi seorang entrepreneur itu hanya akan menjadi beban berat. Dan jangan pernah dikira bahwa sukses itu bisa datang dalam kedipan mata saja. Senada dengan Singgih, Imam juga menyampaikan bahwa kelemahan bisa menjadi suatu peluang, apabila kita bisa mengenali kekuatan yang lain. Apabila kita bisa all out, kita bisa mendapatkan yang terbaik. Keputusan untuk tetap bertahan di kondisi yang tidak menyenangkan itu menjadi hal yang penting untuk seorang entrepreneur. Imam pun juga sering sharing saat roadshow ke berbagai kota, bahwa menjadi entrepreneur yang baik itu sama susahnya dengan menjadi pegawai yang baik.

Bambang Ismawan yang sore itu sejatinya hadir sebagai tamu undangan, juga didaulat untuk sharing seputar perjalanannya jatuh bangun dengan Majalah Trubus. Majalah Trubus didirikannya saat beliau menjadi Ketua Yayasan Bina Swadaya, perjalanannya dimulai ketika saat itu, Trubus mengalami kerugian selama 15 tahun pertama. Semua orang menyarankan bahwa lebih baik Trubus ditutup. Namun Bambang Ismawan bersikap lain, dengan mengajak orang-orang yang memang masih punya keyakinan akan masa depan Trubus, Bambang bergegas untuk membuat Trubus bangkit. Hasilnya, saat ini Trubus menjadi trend setter bagi dunia pertanian. Dan itu menjadi buah dari keyakinan Bambang dan orang-orangnya saat itu.

Di penghujung acara, Prie GS menyemangati peserta dengan gayanya yang khas membuat segar suasana Forum Wedangan dengan sharing tentang perlunya seorang entrepreneur memiliki 3 hal yang utama dalam bisnis, yaitu sense of business, soul of business dan doing of business. Seringkali terjadi adalah orang yang hanya melakukan doing of business tapi sudah merasa melakukan entrepreneurship.

Forum Wedangan ini ditutup oleh iLik sAs yang meminta doa restu kepada semuanya yang hadir agar semua aktivitas yang dilakukan oleh Jaringan Rumah Usaha terus berjalan di jalan kebaikan. Karena Rasulullah, pernah berkata “ maka berjalan sajalah ditengah jalan akan ketemu jalan”. Yakini dengan sesungguh hati apapun yang sedang kita kerjakan saat ini.
See You Next ForWed!


Kreativitas Berkelanjutan, Forum Wedangan ke-71


JRU (Jaringan RumahUSAHA) kembali menggelar Forum Wedangan. Forum sharing yang bersifat rekreatif dan reflektif kali ini akan digelar pada Jumat, 12 Juni 2015 pukul 15.00-18.00 di WISMA PERDAMAIAN di Jalan Imam Bonjol No.209 Semarang.

Forwed, begitu kami biasa menyebut kali ini akan menghadirkan sedulur social entrepreneur asli Temanggung, Singgih Susilo Kartono, pencipta radio Magno, radio kayu produk desa yang mendunia. Selain itu, akan turut menginspirasi Imam Subchan, CEO dbrand Consultant, pengusaha batik sekaligus pengusaha batu alam dari Solo yang namanya juga sudah mendunia. Seperti biasa, Forum ini akan dipandu oleh iLik sAs, pendiri komunitas Jaringan RumahUSAHA.

Mengangkat Tema "Kreatifitas Berkelanjutan", kami mencoba memberikan perspektif kreatifitas yang lebih komplit. Bahwa menjadi kreatif saja tidak cukup, kreatif harus bersistem dan berdampak serta berkelanjutan. Mari berjejaring dan saling memberi dorongan kebaikan. Semoga bisa menjadi forum penuh manfaat untuk semua.

Untuk informasi, silahkan follow twitter kami @JarRumahUSAHA dan @SMGKREATIF, untuk bergabung GRATIS sila KLIK DISINI

Sweta Kartika & Perjuangan Branding Bangsa


Apa yang membedakan produk karakter animasi dari Jepang dan Amerika Serikat bila dibandingkan dengan produk karakter dari negara lainnya? Jawabannya salah satunya adalah karena produk karakter animasi dari kedua negara tersebut merupakan "produk dunia". Tahukah Anda jika " produk dunia" tersebut juga merupakan sarana kedua negara tersebut menancapkan pengaruh kuat mengenai mereka? Sweta Kartika, komikus dari Bandung mengulasnya untuk kita semua ketika berkunjung di #SinauBareng Rekreasi Visual di Rumah Belajar Jaringan Rumah Usaha (JRU) pada Rabu (3/6/15) kemarin.


Bila dibandingkan dengan berbagai peluang kerja di dunia kreatif visual lainnya, pilihan menjadi komikus tampaknya masih belum merupakan pilihan yang populer. Apa pasal? Seorang komikus tak ubahnya adalah penulis cerita atau skenario yang langsung melakukan eksekusi penceritaannya dalam sebuah panel gambar. Komikus yang ideal tidak hanya dituntut piawai dalam menggambar semata tetapi juga liar dalam imajinasi untuk mengembangkan cerita. Benar-benar pilihan yang komprehensif. Dari cakupan bidang karya yang kompleks itulah, lahir talenta muda Nusantara dengan kreativitas yang sudah mengembara ke mana-mana. Dia adalah Sweta Kartika. Pemuda kelahiran Kebumen yang menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB hingga Pascasarjana. Kini, dia bangga menyebut dirinya sebagai komikus. Dari tangan dinginnya, kita menikmati karya komik Indonesia yang pernah menyabet predikat sebagai buku komik Indonesia yang tercepat cetak ulangnya di Indonesia versi Penerbit Gramedia, Grey dan Jingga.

Apa yang membuat komik bertema romantis tersebut memiliki basis pembaca yang begitu besar? Jawabannya terletak pada segi penggarapan kreatif yang sesuai dengan basis sasaran komik dengan alur yang tidak hiperrealitas. Semuanya diramu dari pengalaman kanan-kiri sang komikus. Jadilah komik galau ini semacam memotret fenomena sosial anak muda terkini dengan kemasan yang relatif belum pernah ada: komik. Sebagai sebuah medium, komik adalah sebuah bahasa bergambar yang mudah menghantarkan pesan bagi pembaca kita yang mudah lelah ketika membaca deretan huruf. Gambar mengekspresikan sesuatu yang lebih ekspresif meskipun komikus juga dituntut untuk tidak mereduksi imajinasi pembacanya. Sweta cerdas menangkap itu dan menemukan basis pembaca seusianya yang relatif kering dengan bacaan bergenre kehidupan mereka. Generasi 90-an pasti hafal ketika mengunyah melodrama percintaan gaya Jepang ketika membaca komik laiknya generasi millenium hari ini mengunyah melodrama gaya Korea yang dihadirkan lewat layar gelas.

Sweta yang kini tak hanya sendiri membangun karya komiknya, menggandeng talenta lainnya yang kemudian diwadahi menjadi dua studio yang digawanginya. Keduanya memiliki identitas tersendiri. Wanara Studio yang menggarap tema-tema umum dan Padepokan Ragasukma yang khusus berkonsentrasi pada cerita silat. Kini, melalui komik, Sweta tidak hanya menawarkan sebuah bacaan tetapi sebuah terobosan membangun branding dan membangun sebuah bisnis berkelanjutan dari bisnis merchandising. Sweta kemudian mencontohkan bagaimana Walt Disney dapat memiliki kapitalisasi pasar yang besar karena bisnis lisensi karakter dari berbagai produk karakter mereka.

Ada satu pertanyaan besar yang diajukan kepada Sweta pada forum yang berlangsung hingga menjelang Maghrib itu. Maukah kita membangun karakter yang tidak hanya menjadi legenda semata tetapi juga produk ekonomi berjangka panjang? Berbagai produk karakter sebenarnya juga merupakan bagian dari produk branding bangsa. Doraemon adalah salah satu duta merek untuk pariwisata Jepang. Kita juga semakin memersonifikasikan Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang adidaya ketika melihat Captain America beraksi. Indonesia? Kita memiliki banyak potensi yang bisa dieksploitasi lebih lanjut.

Anda mau berpartisipasi?

FORUM WEDANGAN NOVEMBER 2014
Antara Nilai Inti dan Kreativitas

Forum Wedangan kembali lagi pada bulan November 2014 ini. Setelah lama tak menyapa, forum yang egaliter, cair, namun hangat itu hadir dengan mengusung tema "Kreatip Sesarengan, Makaryo kanthi Becik". Forum Wedangan kali ini dihelat di Ruang Lokapala Gedung Bank Indonesia Semarang pada Jumat (21/11) yang lalu. Forum yang dihadiri lebih dari 400 orang tersebut bukan hanya menjadi forum berkangen semata tetapi juga membangun jejaring baru karena Forum Wedangan kali ini didominasi oleh kalangan muda. Mari kita kreatif bersama-sama...