JRU | Jaringan RumahUSAHA, Berprestasi dan Berbuat Baik | Berbagi Manfaat | Semarang Kreatif JRU | Jaringan RumahUSAHA, Berprestasi dan Berbuat Baik | Berbagi Manfaat | Semarang Kreatif

Merangsang Komunitas Bisnis Berjiwa Wirausaha

Saat ini adalah zamannya ekonomi berbasis kewirausahaan (enterpreneurship). Meski sebelumnya, menjadi enterpreneur kelas mikro / kecil bukanlah kebanggaan, tetapi setelah era konglomerasi tumbang dan terbukti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mampu bertahan - bahkan banyak diantaranya justru tumbuh - sektor inilah yang oleh banyak kalangan termasuk pemerintah justru menjadi tumpuan pemulihan ekonomi negeri ini.

Belangkangan bahkan muncul fenomena mengesankan, banyak kalangan muda usia tampak lebih menyukai membangun usaha sendiri kendati kecil daripada menjadi profesional di perusahaan besar milik orang lain. Hal demikian pasti akan memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi Indonesia, paling tidak dengan kondisi angka pengangguran yang tinggi ini kehadiran para pengusaha muda tersebut mampu memberikan lapangan pekerjaan.

Sekalipun persoalan pokok kewirausahaan juga belum tersentuh secara optimal, baik disadari oleh pemerintah maupun pelaku usahanya sendiri. Persoalan tersebut adalah masalah MENTAL! Menunggu peran pemerintah untuk bergerak menyentuh pembangkitan mental kewirausahaan rasanya lama sekali.

Berangkat dari kegelisahan yang sama guna merangsang bisnis berjiwa wirausaha, kumpulan beberapa usaha yang kebetulan semua bisnisnya masih menginduk di rumah ini menyatu dalam visi Jaringan "RumahUSAHA". Jaringan yang tiap waktu bertambah jumlah anggotanya ini adalah bukan sebagai lembaga komersial tapi sekaligus juga bukan lembaga swadaya masyarakat yang tujuan pendiriannya di bawah maksud-maksud politik tertentu. Tujuan pendiriannya murni 100% untuk pembangkitan kesadaran jiwa kewirausahaan untuk usaha siapapun, baik usaha kecil, mikro maupun kelas gurem!



Semeleh





Setiap orang pastinya memiliki sesuatu keinginan yang ingin dicapai. Namun, bagaimana bila sesuatu tersebut tak kunjung tercapai? Mungkin akan muncul perasaan seperti marah, jengkel, kecewa bahkan hingga bisa menjadi frustasi. Begitu juga saat kita pada kondisi yang penuh dengan tekanan, dihadapkan pada situasi sulit ataupun mendapatkan imbas kemarahan dari orang lain. 

Tumpukan amarah dan rasa kecewa sering kali menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses mencapai tujuan. Seringkali energi kita habis disebabkan tarikan – tarikan emosi yang kita rasakan, sehingga hanya akan menjadi beban yang tidak membuat apa yang kita kerjakan menjadi maksimal. 

Namun bagaimana dengan orang-orang sukses yang bisa mencapai tujuan mereka? Apakah mereka tidak mengalami situasi sulit seperti yang kita rasakan? Orang sukses bisa jadi menghadapi situasi yang lebih sulit dari yang kita rasakan. Tapi tentunya terdapat hal-hal yang dilakukan untuk mensiasati situsi sulit, sehingga mereka dapat melanjutkan proses kehidupan hingga dapat mencapai apa yang yang diinginkan. 

Salah satu cara untuk mensiasati keadaan sulit yaitu dengan merubah cara pandang dalam menghadapi suatu permasalahan. Terdapat salah satu petuah Jawa yang mengatakan, dalam menjalankan hidup kita perlu “semeleh”. Semeleh berasal dari kata seleh yang berarti meletakkan. Bila diartikan secara menyeluruh, semeleh ialah bagaimana kita meletakan sesuatu dengan apa adanya serta pada tempatnya. Dengan lebih sederhananya yaitu menerima keadaan dengan apa adanya.  

Sebenarnya ungkapan semeleh tidaklah mengajarkan kita untuk mengalah pada keadaan. Tidak juga dengan menerima keadaan tanpa berusaha melakukan yang terbaik. Semeleh ialah menerima kenyataan, bahwa kita perlu memahami bahwa tidak semua keadaan dapat kita ubah. Mau menerima kenyataan dengan lapang dada merupakan suatu hal yang membutuhkan keberanian. Orang yang berani menerima kenyataan akan cenderung lebih mudah menerima dan luwes.  

Oleh karena itu, menjadikan diri lebih semeleh dapat membantu kita dalam menjalani hidup pada situasi-situasi sulit. Berat ringannya hidup seseorang tidak ditentukan dari jenis masalahnya, namun seberapa mampu mensiasatinya dengan mengubah sudut pandang terhadap suatu masalah.  
 

Kerendahan Hati







Rendah hati, salah satu kata yang mudah diucapkan namun sangat sulit untuk dijalankan. Bila melihat dari arti katanya, rendah hati merupakan suatu sifat seseorang yang dapat memposisikan sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih sukses atau lebih-lebih yang lainnya. Sehingga orang yang memiliki sifat yang rendah hati tidak memiliki rasa lebih tinggi daripada orang lain.

Seseorang yang tulus melakukan sesuatu untuk membahagiakan orang lain ialah salah satu ciri dari seseorang yang memiliki sifat rendah hati. Mereka akan dengan senantiasa memberikan yang terbaik terhadap orang lain tanpa mengharapkan balasan. Selain itu, seseorang yang memiliki sifat rendah hati juga dengan lebih terbuka menerima segala pendapat dari orang lain berupa saran ataupun kritikan. Bagi mereka, saran dan kritik dari orang lain merupakan sesuatu hal penting yang dapat membangun ke arah yang lebih baik.
Orang yang rendah hati juga sebenarnya memiliki kelapangan hati untuk mengakui kesalahan serta berani bertanggung jawab atas apa yang diperbuat. Sikap – sikap yang tercermin dari seseorang yang rendah hati sebenarnya mencerminkan kesadaran diri atas ketidak sempurnaan dan keterbatasan kemampuan, sehingga jauh dari kesombongan dan keangkuhan.

Beberapa ciri di atas tampaknya tergambar dari seseorang yang merupakan keluarga besar JRU, yaitu Pak Rustamaji atau yang lebih akrab disapa dengan Pak Rus. Pastinya sifat rendah hati yang beliau miliki saat ini tak terlepas dari sebuah proses yang panjang serta pemaknaan yang dalam dari kehidupannya. Sempat berada pada posisi yang tinggi hati, membuat beliau menyadari satu hal bahwa kesombongan hanya akan menjadikan kehidupan seseorang jauh dari rasa damai dan bahagia sepenuhnya. 

Dari situ dapat kita petik sebuah pelajaran bahwa kerendahan hati sangat penting dimiliki oleh setiap orang, karena dari kerendahan hati itulah tercermin tingginya kecedasan spiritual seseorang.

Kemampuan Memanfaatkan Waktu




Kemampuan Memanfaatkan Waktu


Seringkali terdengar di telinga kita bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga. Begitu berharganya hingga muncul ungkapan bahwa waktu adalah uang. Beberapa orang bahkan menganggap lebih dari itu. Dengan kemampuan mengatur waktu kita dapat mengukur apa saja yang kita kerjakan hari ini, seberapa sibuknya kita hari ini sehingga kita menjadi tak hanya merasa sibuk namun tak mendapat sesuatu yang bermanfaat dari apa yang telah kita lakukan.

Mengatur waktu sama artinya dengan kita membuat sebuah rencana. Rencana yang dibuat agar kita tidak melakukan sesuatu melebihi waktu yang ditentukan. Dari situ kita mampu lebih efisien dalam melakukan sesuatu. Dengan membuat rencana ini pula kita tidak menjadi bingung tentang apa yang akan kita lakukan.

Tubuh seseorang pasti mempunyai batasan, disinilah peran mengatur waktu. Dengan kemampuan mengatur waktu, energi kita menjadi tidak terbuang sia-sia. Jarang stress, tergesa-gesa, atau panik, menjadi salah satu tanda bahwa diri kita sudah mulai mampu mengatur waktu dengan baik. Bayangkan saja, betapa nikmatnya hidup kita bila sudah begitu.

Keuntungan berikutnya dari kemampuan mengatur waktu adalah kita dapat mempunyai waktu luang. Pertanyakan pada diri apabila kita merasa jarang mempunyai waktu luang, bisa jadi karena waktu yang kita miliki belum digunakan dengan baik. Banyak manfaat yang akan kita dapat apabila memiliki waktu luang, salah satunya adalah kita dapat belajar hal-hal baru. Ini membuat pikiran kita terus berkembang, tentunya hal ini sangat baik bagi pertumbuhan diri kita kedepan.

Pengelolaan waktu yang baik dalam tiap aktifitas sehari-hari membuat diri kita terhindar dari bad time. Apa itu bad time? Rasa kesal, stress, tergesa-gesa seperti yang disebutkan diatas adalah hal-hal yang termasuk bad time. Ketika bad time, hubungan kita dengan teman dan keluarga akan kurang nyaman. Terhindar dari bad time pastinya akan membuat hidup kita lebih bahagia sehingga dapat membuat relasi dengan keluarga serta teman menjadi baik.

Sehingga, mari mulai belajar manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, karena waktu tak bisa diputar kembali. Menyia-nyiakan waktu hanya akan membuat menyesal dikemudian hari.