JRU | Jaringan RumahUSAHA, Berprestasi dan Berbuat Baik | Berbagi Manfaat | Semarang Kreatif JRU | Jaringan RumahUSAHA, Berprestasi dan Berbuat Baik | Berbagi Manfaat | Semarang Kreatif

Merangsang Komunitas Bisnis Berjiwa Wirausaha

Saat ini adalah zamannya ekonomi berbasis kewirausahaan (enterpreneurship). Meski sebelumnya, menjadi enterpreneur kelas mikro / kecil bukanlah kebanggaan, tetapi setelah era konglomerasi tumbang dan terbukti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mampu bertahan - bahkan banyak diantaranya justru tumbuh - sektor inilah yang oleh banyak kalangan termasuk pemerintah justru menjadi tumpuan pemulihan ekonomi negeri ini.

Belangkangan bahkan muncul fenomena mengesankan, banyak kalangan muda usia tampak lebih menyukai membangun usaha sendiri kendati kecil daripada menjadi profesional di perusahaan besar milik orang lain. Hal demikian pasti akan memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi Indonesia, paling tidak dengan kondisi angka pengangguran yang tinggi ini kehadiran para pengusaha muda tersebut mampu memberikan lapangan pekerjaan.

Sekalipun persoalan pokok kewirausahaan juga belum tersentuh secara optimal, baik disadari oleh pemerintah maupun pelaku usahanya sendiri. Persoalan tersebut adalah masalah MENTAL! Menunggu peran pemerintah untuk bergerak menyentuh pembangkitan mental kewirausahaan rasanya lama sekali.

Berangkat dari kegelisahan yang sama guna merangsang bisnis berjiwa wirausaha, kumpulan beberapa usaha yang kebetulan semua bisnisnya masih menginduk di rumah ini menyatu dalam visi Jaringan "RumahUSAHA". Jaringan yang tiap waktu bertambah jumlah anggotanya ini adalah bukan sebagai lembaga komersial tapi sekaligus juga bukan lembaga swadaya masyarakat yang tujuan pendiriannya di bawah maksud-maksud politik tertentu. Tujuan pendiriannya murni 100% untuk pembangkitan kesadaran jiwa kewirausahaan untuk usaha siapapun, baik usaha kecil, mikro maupun kelas gurem!

Ketika JRUkustik Tak Sendiri Lagi...

Layaknya tradisi Ramadhan kebanyakan, kegiatan berbuka puasa bersama menjadi ajang berkumpul dan bersilaturahim. Komunitas Jaringan RumahUSAHA juga memanfaatkan momentum Ramadhan untuk saling bersilaturahim sesama relawan yang selama ini berpisah ruang. Beberapa waktu lalu, JRU mengadakan buka puasa bersama di Rumah Belajar JRU Pondok Indraprasta.

Pada buka puasa bersama kali ini, JRUkustik sudah tidak tampil sebagai penampil tunggal seperti beberapa tahun sebelumnya. Kali ini, JRUkustik tampil bersama dengan dua kelompok akustik yang tumbuh di kalangan relawan JRU. JRUkustik yang kini digawangi Arif, Nofa, Berly, Benny, dan Fardan tetap menghibur audiens seperti biasanya. Usai mereka menggelar dua lagu pembuka sekaligus kata sambutan dari Ketua Komunitas JRU yang baru, Muhamy Akbar, tampil kawan-kawan baru yang ternyata juga berbakat bermusik akustik.

Mereka adalah Dea sebagai vokalis, Galuh yang menjadi gitaris sekaligus vokalis, Sukma sebagai bassis, dan Inul sebagai perkusi. Tampil dengan membawakan lagu perdana Sempurna yang pernah dipopulerkan oleh Andra and the Backbone, kelompok akustik baru ini memberi nuansa baru. "Grogi pasti, karena kami juga baru berlatih serius beberapa kali saja," ujar Sukma yang biasanya memegang pena elektronik sebagai ilustrator di Red Sugar Studio. Ya, kelompok akustik yang menamakan dirinya sebagai Adiknya JRUkustik ini berawal dari sekadar sering berkumpul dan sembarang memetik gitar. Berawal dari sembarang itulah, kelompok ini kemudian mulai serius mencoba belajar bermusik akustik di bawah bimbingan Kak Berly JRUkustik. Latihan mereka pun di Rumah Belajar usai menyelesaikan tugas pekerjaan.

Selain Adiknya JRUkustik, ada juga JRUnior yang beranggotakan generasi kedua relawan JRU. Terdiri dari anak-anak relawan JRU, kelompok yang diasuh oleh Nabila Narulita ini dibentuk sebagai salah satu cara unik kawan-kawan cilik ini mengisi liburan panjang kenaikan kelas. Diawali dengan komitmen latihan bersama setiap siang hari di Rumah Belajar, mereka kemudian menemukan komposisi yang lumayan apik sebagai sebuah kelompok musik akustik. Alat musk yang dimainkan pun beragam, mulai dari piano, biola, gitar, bahkan perkusi cajon yang ditepuk ritmis. Mereka memainkan dua lagu yaitu satu berbahasa Inggris, I Have a Dream milik ABBA dan satu lagi nomor milik DMasiv yaitu Jangan Menyerah. 

Momentum berbuka puasa bersama ini diakui oleh iLik sAs adalah momentum berbagi dan relaksasi dengan karyawan yang setiap hari berkutat dengan operasional bisnis. Melalui momentum seperti inilah, antara koordinator dan karyawan dapat bertemu dalam satu forum yang tanpa sekat. "Inilah forum relaksasi yang harus dimaknai bersama sebagai satu kesatuan tim, kita besar karena kita adalah tim yang baik," demikian disampaikan oleh Founder JRU tersebut dalam sambutan singkat membuka acara. 

Kelas Musik Pengisi Liburan Sekolah

Memasuki bulan puasa ramadhan ini, mayoritas kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan. Untuk mengisi liburan sekolah, di Rumah Belajar JRU Grha Salma Brotojoyo mengadakan kegiatan kelas musik untuk anak-anak dari Sedulur-sedulur  Jaringan Rumah Usaha.

Kelas yang rutin diadakan tiap hari ini selama bulan puasa ini di dampingi oleh Kak Berly dan Kak Nofa dari Jrukustik. Terhitung ada kurang lebih 10 anak yang ikut belajar di kelas ini. Mulai dari vokal, gitar, piano, biola dan kajon. Dikelas ini, anak-anak diajari untuk bermusik dalam sebuah format grup akustik. Mengikuti jejak kakak-kakaknya di Jrukustik yang juga berformat grup akustik.

“Tujuan diadakan kelas ini untuk melatih keberanian tampil di depan publik, melatih tanggung jawab masing anak-anak untuk belajar, meningkatkan kecerdasan dalam bermusik, dan meningkat ikatan batin antara masing-masing anak yang terlibat di dalamnya,” tutur Kak Berly. Senada dengan Kak Berly, Dodot Agung, salah satu relawan JRU yang ke-2 anaknya ikut dikelas musik ini menyampaikan respon positif. “Kegiatan ini sangat bagus sekali, karena selain mengisi liburan sekolah, anak-anak melalui kelas musik ini bisa belajar untuk meningkatkan skill bermusik”.

Tak hanya belajar musik semata, grup musik anak-anak ini nantinya juga akan perform di acara buka bersama yang diadakan oleh beberapa unit usaha di Jaringan Rumah Usaha. Ada 2 lagu yang sudah dipilihkan oleh Kak Berly dan Kak Nofa untuk dijadikan materi latihan oleh grup musik akustik anak-anak ini, yaitu lagu “I Have a Dream” yang dipopulerkan oleh Westlife feat Sherina dan lagu “Esok Kan Bahagia” yang dipopulerkan oleh artis-artis Musica Studio.

Menurut Nabila Narulita, salah satu peserta kelas musik, kegiatan pengisi liburan ini dijadikan sebagai ajang kumpul-kumpul dengan teman-teman yang lain dan juga sekaligus sebagai proses pembelajaran untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman yang lain dalam bermusik. Ini cerita dari Rumah Belajar Jaringan Rumah Usaha selama liburan Ramadhan, semoga kedepan bibit-bibit musisi ini bisa terus berbagi kebahagiaan dan memberikan manfaatnya melalui musik.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, semoga lancar sampai akhir dan mendapatkan banyak berkah di bulan ini. Amin.


Forum Wedangan ke-71: Kreativitas Berkelanjutan



Jumat (12/6) yang lalu, Jaringan RumahUSAHA kembali menggelar acara Forum Wedangan yang ke-71. Acara yang dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai macam latar belakang ini terasa sekali antusiasnya.  Ruangan Wisma Perdamaian yang biasanya digunakan untuk acara-acara formal, sore itu ditata dengan gaya khas Forum Wedangan yaitu lesehan komplit dengan jajanan pasar yang disajikan di sebuah tampah kecil.

Mengangkat tema tentang Kreativitas Berkelanjutan, acara yang dipandu iLik sAs ini menghadirkan narasumber antara lain Singgih Susilo Kartono, kreator dari radio kayu Magno dan Spedagi, bersama Imam Subchan, seorang pengusaha yang sukses mengelola usaha keluarga yaitu batik dan batu alam dan aktif sebagai konsultan branding di Dbrand Agency Consultant. Bukan Forum Wedangan namanya apabila tidak ada kejutan, sore itu Bambang Ismawan, pendiri Yayasan Bina Swadaya yang membidani kelahiran majalah Trubus, turut hadir berbagi cerita tentang pengalamanan wirausahanya. Tak ketinggalan, Prie GS yang turut hadir menyemangati kawan-kawan pengusaha dengan canda khasnya.

Adalah kegelisahan seorang Singgih Susilo Kartono yang mendapati keadaannya desanya yang menyedihkan ketika kala itu memutuskan pulang kampung di tahun 1994. Orang-orang memilih bekerja sebagai bagian dari industri dan berpindah ke kota. Jumlah petani-petani berkurang karena lebih memilih menjadi pekerja di kota. Desa menjadi tidak tergarap lagi dengan baik, yang ada alam menjadi rusak karena pengembangan dari industri-industri yang mulai tumbuh. Dengan gerakan bernama Pulang Kampung, Singgih berusaha menyampaikan pesan kepada semua orang bahwa masa depan itu ada di dekat kita.

Kehidupan ini adalah siklus, orang dari desa berpindah ke kota, di kota menemukan banyak sekali kebisingan yang akhirnya membuat orang kembali ke desa. Desa di masa depan menurut  Singgih adalah suatu tempat yang layak dan nyaman untuk ditinggali karena kemajuan teknologi dan informasi. Singgih bergerak dengan caranya yaitu salah satunya dengan berkarya melalui pembuatan radio Magno. Radio dari kayu yang dibuat di pelosok desa dengan wisdom dan filosofi namun di sisi lain menjadi sangat populer di dunia yang lain.

Tak hanya itu, Singgih melihat banyak potensi di desanya, yaitu berlimpah akan bambu. Dari bambu ini, Singgih berkreasi dengan memadupadankan menjadi rangka sepeda yang diberi label Spedagi. Misi dari Spedagi ini adalah untuk revitalisasi desa-desa yang kondisinya sudah menyedihkan. Berbeda dengan Magno, Spedagi ini tidak di ekspor. Singgih lebih menekankan mengekspor gerakannya daripada hanya sekedar produk. Adalah mimpi dari Singgih yang ingin Indonesia menyumbangkan sesuatu ke dunia dengan potensi yang dimilikinya. Dan melalui Spedagi ini, misi utamanya untuk menjadikan sebagai global movement, revitalisasi desa.

Di satu sesi yang lain, Imam Subchan menceritakan bahwa entrepreneur menjadi hobi yang menyenangkan buatnya. Karena apabila situasinya tidak happy, menjadi seorang entrepreneur itu hanya akan menjadi beban berat. Dan jangan pernah dikira bahwa sukses itu bisa datang dalam kedipan mata saja. Senada dengan Singgih, Imam juga menyampaikan bahwa kelemahan bisa menjadi suatu peluang, apabila kita bisa mengenali kekuatan yang lain. Apabila kita bisa all out, kita bisa mendapatkan yang terbaik. Keputusan untuk tetap bertahan di kondisi yang tidak menyenangkan itu menjadi hal yang penting untuk seorang entrepreneur. Imam pun juga sering sharing saat roadshow ke berbagai kota, bahwa menjadi entrepreneur yang baik itu sama susahnya dengan menjadi pegawai yang baik.

Bambang Ismawan yang sore itu sejatinya hadir sebagai tamu undangan, juga didaulat untuk sharing seputar perjalanannya jatuh bangun dengan Majalah Trubus. Majalah Trubus didirikannya saat beliau menjadi Ketua Yayasan Bina Swadaya, perjalanannya dimulai ketika saat itu, Trubus mengalami kerugian selama 15 tahun pertama. Semua orang menyarankan bahwa lebih baik Trubus ditutup. Namun Bambang Ismawan bersikap lain, dengan mengajak orang-orang yang memang masih punya keyakinan akan masa depan Trubus, Bambang bergegas untuk membuat Trubus bangkit. Hasilnya, saat ini Trubus menjadi trend setter bagi dunia pertanian. Dan itu menjadi buah dari keyakinan Bambang dan orang-orangnya saat itu.

Di penghujung acara, Prie GS menyemangati peserta dengan gayanya yang khas membuat segar suasana Forum Wedangan dengan sharing tentang perlunya seorang entrepreneur memiliki 3 hal yang utama dalam bisnis, yaitu sense of business, soul of business dan doing of business. Seringkali terjadi adalah orang yang hanya melakukan doing of business tapi sudah merasa melakukan entrepreneurship.

Forum Wedangan ini ditutup oleh iLik sAs yang meminta doa restu kepada semuanya yang hadir agar semua aktivitas yang dilakukan oleh Jaringan Rumah Usaha terus berjalan di jalan kebaikan. Karena Rasulullah, pernah berkata “ maka berjalan sajalah ditengah jalan akan ketemu jalan”. Yakini dengan sesungguh hati apapun yang sedang kita kerjakan saat ini.
See You Next ForWed!


Kreativitas Berkelanjutan, Forum Wedangan ke-71


JRU (Jaringan RumahUSAHA) kembali menggelar Forum Wedangan. Forum sharing yang bersifat rekreatif dan reflektif kali ini akan digelar pada Jumat, 12 Juni 2015 pukul 15.00-18.00 di WISMA PERDAMAIAN di Jalan Imam Bonjol No.209 Semarang.

Forwed, begitu kami biasa menyebut kali ini akan menghadirkan sedulur social entrepreneur asli Temanggung, Singgih Susilo Kartono, pencipta radio Magno, radio kayu produk desa yang mendunia. Selain itu, akan turut menginspirasi Imam Subchan, CEO dbrand Consultant, pengusaha batik sekaligus pengusaha batu alam dari Solo yang namanya juga sudah mendunia. Seperti biasa, Forum ini akan dipandu oleh iLik sAs, pendiri komunitas Jaringan RumahUSAHA.

Mengangkat Tema "Kreatifitas Berkelanjutan", kami mencoba memberikan perspektif kreatifitas yang lebih komplit. Bahwa menjadi kreatif saja tidak cukup, kreatif harus bersistem dan berdampak serta berkelanjutan. Mari berjejaring dan saling memberi dorongan kebaikan. Semoga bisa menjadi forum penuh manfaat untuk semua.

Untuk informasi, silahkan follow twitter kami @JarRumahUSAHA dan @SMGKREATIF, untuk bergabung GRATIS sila KLIK DISINI

Sweta Kartika & Perjuangan Branding Bangsa


Apa yang membedakan produk karakter animasi dari Jepang dan Amerika Serikat bila dibandingkan dengan produk karakter dari negara lainnya? Jawabannya salah satunya adalah karena produk karakter animasi dari kedua negara tersebut merupakan "produk dunia". Tahukah Anda jika " produk dunia" tersebut juga merupakan sarana kedua negara tersebut menancapkan pengaruh kuat mengenai mereka? Sweta Kartika, komikus dari Bandung mengulasnya untuk kita semua ketika berkunjung di #SinauBareng Rekreasi Visual di Rumah Belajar Jaringan Rumah Usaha (JRU) pada Rabu (3/6/15) kemarin.


Bila dibandingkan dengan berbagai peluang kerja di dunia kreatif visual lainnya, pilihan menjadi komikus tampaknya masih belum merupakan pilihan yang populer. Apa pasal? Seorang komikus tak ubahnya adalah penulis cerita atau skenario yang langsung melakukan eksekusi penceritaannya dalam sebuah panel gambar. Komikus yang ideal tidak hanya dituntut piawai dalam menggambar semata tetapi juga liar dalam imajinasi untuk mengembangkan cerita. Benar-benar pilihan yang komprehensif. Dari cakupan bidang karya yang kompleks itulah, lahir talenta muda Nusantara dengan kreativitas yang sudah mengembara ke mana-mana. Dia adalah Sweta Kartika. Pemuda kelahiran Kebumen yang menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB hingga Pascasarjana. Kini, dia bangga menyebut dirinya sebagai komikus. Dari tangan dinginnya, kita menikmati karya komik Indonesia yang pernah menyabet predikat sebagai buku komik Indonesia yang tercepat cetak ulangnya di Indonesia versi Penerbit Gramedia, Grey dan Jingga.

Apa yang membuat komik bertema romantis tersebut memiliki basis pembaca yang begitu besar? Jawabannya terletak pada segi penggarapan kreatif yang sesuai dengan basis sasaran komik dengan alur yang tidak hiperrealitas. Semuanya diramu dari pengalaman kanan-kiri sang komikus. Jadilah komik galau ini semacam memotret fenomena sosial anak muda terkini dengan kemasan yang relatif belum pernah ada: komik. Sebagai sebuah medium, komik adalah sebuah bahasa bergambar yang mudah menghantarkan pesan bagi pembaca kita yang mudah lelah ketika membaca deretan huruf. Gambar mengekspresikan sesuatu yang lebih ekspresif meskipun komikus juga dituntut untuk tidak mereduksi imajinasi pembacanya. Sweta cerdas menangkap itu dan menemukan basis pembaca seusianya yang relatif kering dengan bacaan bergenre kehidupan mereka. Generasi 90-an pasti hafal ketika mengunyah melodrama percintaan gaya Jepang ketika membaca komik laiknya generasi millenium hari ini mengunyah melodrama gaya Korea yang dihadirkan lewat layar gelas.

Sweta yang kini tak hanya sendiri membangun karya komiknya, menggandeng talenta lainnya yang kemudian diwadahi menjadi dua studio yang digawanginya. Keduanya memiliki identitas tersendiri. Wanara Studio yang menggarap tema-tema umum dan Padepokan Ragasukma yang khusus berkonsentrasi pada cerita silat. Kini, melalui komik, Sweta tidak hanya menawarkan sebuah bacaan tetapi sebuah terobosan membangun branding dan membangun sebuah bisnis berkelanjutan dari bisnis merchandising. Sweta kemudian mencontohkan bagaimana Walt Disney dapat memiliki kapitalisasi pasar yang besar karena bisnis lisensi karakter dari berbagai produk karakter mereka.

Ada satu pertanyaan besar yang diajukan kepada Sweta pada forum yang berlangsung hingga menjelang Maghrib itu. Maukah kita membangun karakter yang tidak hanya menjadi legenda semata tetapi juga produk ekonomi berjangka panjang? Berbagai produk karakter sebenarnya juga merupakan bagian dari produk branding bangsa. Doraemon adalah salah satu duta merek untuk pariwisata Jepang. Kita juga semakin memersonifikasikan Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang adidaya ketika melihat Captain America beraksi. Indonesia? Kita memiliki banyak potensi yang bisa dieksploitasi lebih lanjut.

Anda mau berpartisipasi?

FORUM WEDANGAN NOVEMBER 2014
Antara Nilai Inti dan Kreativitas

Forum Wedangan kembali lagi pada bulan November 2014 ini. Setelah lama tak menyapa, forum yang egaliter, cair, namun hangat itu hadir dengan mengusung tema "Kreatip Sesarengan, Makaryo kanthi Becik". Forum Wedangan kali ini dihelat di Ruang Lokapala Gedung Bank Indonesia Semarang pada Jumat (21/11) yang lalu. Forum yang dihadiri lebih dari 400 orang tersebut bukan hanya menjadi forum berkangen semata tetapi juga membangun jejaring baru karena Forum Wedangan kali ini didominasi oleh kalangan muda. Mari kita kreatif bersama-sama...

Forum Wedangan is Back!


Forum Wedangan is Back!

Forum Wedangan akan kembali hadir. Setelah beberapa saat rehat, JRU (Jaringan RumahUSAHA) kembali menggelar Forwed. Kali ini akan digelar pada Jumat, 21 November 2014 pukul 15.00-18.00 di RUANG LOKAPALA, Gedung Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah V Jawa Tengah-DIY di Jalan Imam Bardjo, SH No. 4 Semarang.

Sedulur social enterpreneur sukses yang akan berinfaq ilmu di Forum Wedangan ini Liesmia Harmanto. Mbak Lies, demikian panggilan akrabnya. Beliau adalah pemilik dari jaringan rumah makan Gulai Kepala Ikan Mas Agus. Selain itu akan turut memberi ular-ular, Marlison, Deputi Kepala BI Jateng DIY & Prie GS, budayawan populer asal Semarang.

Forum Wedangan ini di dedikasikan sebagai reriungan nyantai pelaku industri kreatif Jateng - DI Yogyakarta. Gojek kere a la Forwed yang dipandu iLik sAs, Founder JRU - selalu dinanti pelaku UMKM. Diskusi santai nanti akan mengupas bagaimana kreatifitas menjadi solusi dalam rangka menyambut MEA 2015.

Untuk informasi mention ke @SMGKREATIF dan untuk bergabung GRATIS, sila klik disini

AKADEMI BERBAGI 78
Bicara Startup a la iLik sAs

Lama tak bersua dengan para Akberians, iLik sAs kembali menyapa kelas Akademi Berbagi. Kali ini di kelas ke-78 yang diselenggarakan di Rumah Belajar JRU Grha Salma Pondok Indraprasta, iLik sAs berbicara tentang start-up. Kelasnya sendiri diadakan pada Jumat (31/10) yang lalu. Simak laporan relawan muda JRU, Amanda Yudi Purwoko yang menurunkannya untuk Anda.

Obat Nyamuk Swadaya

Walau sebutan obat nyamuk itu salah, tapi rasanya belum ada istilah yang lebih komunikatif dari itu untuk menyebut racun nyamuk. Maka mari kita nikmati saja kesalahan ini demi cerita yang ingin saya sampaikan, yakni betapa fanatiknya saya kepada obat nyamuk tradisional. Paling emosional bagi saya adalah kelambu. Jelas ia lebih layak disebut sebagai jaring nyamuk katimbang obat nyamuk. Tidur dengan kelambu sungguh memberi efek tenteram dan efek kegembiraan sekaligus. Tenteram karena tidur menjadi rendah gangguan. Gembira karena melihat nyamuk yang hanya berputar-putar di luar kelambu.memberi efek balas dendam atas ulahnya yang biasa menjengkelkan.

Tapi teknologi kelambu memang dikenal ribet. Ia harus didesain khusus seukuran kamar tidur kita. Tak mudah kini mencari penjahit yang bersemangat menjahit kelambu karena honor dan kerepotannya dianggap tak sepadan. Alasan lain ialah makin jarang pemesan jahitan jenis ini karena kelambu makin tidak diminati. Jika pun kelambu sudah dipasang, ia bukan cuma penjerat nyamuk yang baik tetapi juga penjerat debu yang baik. Hanya dalam seminggu, kelambu sudah menjadi sarang debu. Maka tersedia seribu alasan untuk membuat teknologi ini tak laku.
 

Maka kepada nyamuk mulai dikenakan teknologi yang lebih praktis mulai dari obat nyamuk bakar, lampu, aroma sampai raket nyamuk. Tetapi semua teknologi itu mengandung kelemahan yang tak cocok dengan logat tidur saya. Teknik mengasapi nyamuk jelas teknik yang paling tidak saya pilih karena korban asap itu bisa-bisa bukan cuma nyamuk tapi malah saya sendiri. Teknik aroma juga membuat kepala pusing karena sulit mencari aroma yang cocok. Teknik lampu juga tak bebas risiko. Sementara silaunya saya dapatkan, nyamuknya tak banyak berdatangan. Raket nyamuk apalagi. Suara nyamuk tersengat listrik itu sungguh berisik. Lagipula saya yang ingin tidur malah harus bermain bulutangkis. Atau jika sedang apes, bukan hanya nyamuk yang tersengat aliran listrik tapi juga tangan saya sendiri. Jadi selama ini, menyangkut soal nyamuk, begitu repot hidup saya.
 

Maka ketika di internet saya menemukan cara tradisional mengusir nyamuk giranglah hati saya. 
Caranya sederhana, memotong botol mineral jadi dua, menyatukannya sedemikian rupa, menuangnya dengan cairan gula merah dan ragi. Nyamuk akan berdatangan dengan mengeremuni
larutan itu lalu mati. Segera alat ini saya buat dan saya taruh di pojok ruang dan hingga hari ini, sampai saya menulis kolom ini, tak satupun nyamuk yang datang. Saya termenung Bukan kecewa pada alat ini, tetapi sedang berpikir, jangan-jangan kelakuan nyamuk sekarang telah berubah.


Prie GS
Budayawan, Motivator, Penulis Buku Best Seller
Tinggal di Semarang 

Kaos Beribu Jarum

Di masa kecil saya, di saat papan, pangan dan pakaian masih sulit dan mahal, saya memikiki kaos kesayangan, satu-satunya kaos terbaik yang saya punya. Suatu kali, ketika sedang memakai kaos ini, saya keliru mencari teman bermain, yakni teman yang lebih tua dan bukan seangkatan saya. Kami bermain gulat dan perang-perangan. Saya lupa detailnya, tetapi permainan itu memanas, walaupun statusnya masih bercanda tetapi secara faktual kami telah berkelahi dalam pengertian sebenarnya.

Seorang anak benar-benar menempatkan saya sebagai target. Saya ditelikung dan kaos saya dilepas paksa. Walau keadaan memang telah memanas, saya masih berharap, bahwa sesungguhnya kami masih bercanda. Dan pelepasan kaos ini hanyalah bahwa tanda akhir dari permainan dan kami kembali berteman. Dugaan saya keliru. Anak itu menenteng kaos saya menuju sebuah semak tempat tanaman sejenis ilalang dengan bunga, atau mungkin buah serupa jarum.

Kami orang-orang desa akrab dengan tanaman jarum ini, karena itulah jarum yang senantiasa menancap di pakaian kami ketika semak itu kami lewati. Hanya lewat tak sengaja, jarum-jarum itu telah sengit menancapi pakaian kami dan butuh waktu ekstra untuk membersihkannya. Dan anak itu, tak cuma melewati semak ini tetapi menyabetkan kaos ke semak ini. Saya berteriak sekuat tenaga untuk mencegah. Dengan teriakan yang nyaris kehilangan suara itu, saya kira akan cukup menghentikan aksinya. Dan saya salah. Anak itu terus melampiaskan amarahnya sedemikian rupa. Kaos saya dihajar sedemikian lupa sampai serupa gumpalan handuk berduri. Saya bukan cuma kehilangan suara, tetapi juga hampir kehilangan kesadaran. Anak itu menyerahkan kaos ini sambil
menyeringai puas. Saya melangkah pulang sambil bibir saya bergerak hebat tanpa pernah saya gerakkan. Itulah tanda-tanda kemarahan hebat, sekaligus ketidak berdayaan hebat. Kami sekeluarga berkerumunan untuk mencabuti ribuan duri ini. Tapi percuma. Kaos ini terlalu hancur untuk bisa diselamatkan.

Ini adalah salah satu pengalaman kelam yang terpatri dalam ingatan. Pelajarannya adalah betapa fana apa yang disebut barang kesayangan itu. Suatu kali, suka atau terpaksa harus dilepaskan. Berat melepas barang kesayangan, tetapi lepas adalah keniscayaan. Kedua, mewaspadai perkembangan persoalan, bahwa permainan paling menyenangkan pun bisa berubah jadi pertengkaran. Ketiga, mewaspadai bahwa ada potensi permusuhan di dalam pertemanan dan ada naluri berteman di dalam permusuhan.

Prie GS
Budayawan, Motivator, Penulis Buku Best Seller
Tinggal di Semarang

#SinauBareng Hypnosis For Selling

Rumah Belajar Jaringan Rumah Usaha  tanggal 8 Agustus 2014 yang lalu kembali mengadakan kegiatan #SinauBareng. Kali ini #Sinaubareng bersama komunitas Success Community yang di komando oleh Yance Chan, menghadirkan salah satu pakar hipnosis yaitu Willy Wong.

Tak Ada Yang Instan Untuk Berhasil

Berkembangnya kemajuan teknologi beberapa tahun terakhir ini di Indonesia, khususnya di dunia maya, tak pelak mempunyai influence yang cukup besar bagi pengguna internet. Sosial media yang beragam, dijadikan ajang untuk mengenalkan
produk atau jasa seluas-luasnya.