Pemimpin Kita Tak Lagi Membaca?

MARI menduga bahwa kebanyakan pemimpin kita tak punya waktu lagi untuk membaca. Alasan bahwa mereka terlalu sibuk, terlalu serius mengurus negara adalah alasaan yang mengada-ada.

Sebabnya jelas, keadaan negara ini demikian buruk dan terus saja memburuk. Sungguh hasil yang tak sepadan dengan kesibukan para pemimpim itu jika mereka benar-benar memakai kesibukannya untuk mengurus negara. Jadi alasan kesibukan itu sungguh merupakan kebohongan sepanjang perbaikan negara tak kunjung tiba. Mari kita melihat fakta yang lebih jelas, betapa media massa tak kunjung lelah menganjurkan kebaikan pada pemimpinnya. Mereka tiap hari melaporkan fakta, literatur, sejarah, keteladanan hingga tragedi kekuasaan. Tapi semua seperti tak terbaca. Indikatornya jelas, aneka bacaan itu sama sekali tak meninggalkan bekas. Ada media yang menulis di tajuknya tentang rakyat yang sendiri, ditinggal pemimpinnya yang sibuk berkelahi. Tapi rakyat tetap saja sendiri dan para pemimpin tetap saja sibuk berkelahi. Media telah menulis tentang Sampit, tentang ratusan kepala yang terpenggal dan dibuat bal-balan bak bola mainan. Tapi seorang pemimpin bisa berkata bahwa peristiwa itu tak perlu dibuat dramatis. ''Tak perlu dibesar-besarkan,'' katanya. Anjuran itu betul sepanjang bermaksud bercanda dan membuat logika plesetan. Karena kasus Sampit memang sudah sangat besar, hingga tak perlu lagi diperbesar. Ia tak cuma besar tapi raksasa! Tapi logika itu, jika benar tentu sangat sulit dimengerti. Bagaimana mungkin di tengah amuk yang demikian ganas, orang masih tega membuat plesetan. Bisa jadi rakyat tetap membutuhkan humor. Tapi bercanda di depan rakyat yang sedang sengsara adalah sebuah kejahatan. Ada pula media yang menulis tentang putusan MA Amerika yang demikian berwibawa. Putusan itu langsung melapangan jalan Bush Junior ke kursi presiden dan memaksa Al Gore menerima kekalahannya dengan lapang dada. Lebih penting dari itu semua, rakyat dengan rela menerima dan Amerika kembali menemukan kehormatannya. Amerika, negeri canggih, negeri yang mendidik rakyat main gugat ke pengadilan meski cuma terkena semburan suara tape tetangga, ternyata adalah negeri yang penurut dan gampang percaya pada orang lain. Percaya, trust, ternyata adalah kata kuncinya. Dan kata ''percaya'' itu sendiri masih tergantung pada kunci berikutnya, yakni pihak yang dipercayai. Kepercayaan rakyat samerika pada MA-nya demikian tinggi karena mereka juga percaya bahwa anggota MA bukan jenis orang-orang dogol yang berani memepermainkan amanat publik. Pelajaran untuk bisa percaya dan bisa dipercayai, sungguh demikian buruknya di negeri ini. Dan siapa di antara dua pihak itu yang jago melanggar? Kita semua bisa menduganya. Rakyat Indonesia yang bodoh dan sederhana, sejak lama menyadari kebodohannya. Sehingga terhadap pemimpin, ia tak cuma percaya, tak juga menyerahkan seluruh nasibnya. Tapi fakta menjelaskan penyerahan nasib yang demikian spektakuler itu ditafsirkan sebagai kebodohan. Di atas kebodohan itulah para pemimpin merasa aman menyelenggarakan pesta. Media juga tak henti-henti menulis tentang sejarah. Tentang aneka yuris prudensi klasik, tentang legenda Socrates yang begitu susah payah menghormati hukum, meski hukum sendiri sedang tidak adil kepadanya. Socrates sabar terhadap hukum Athena yang saat itu masih bodoh dan muda. Tapi saat ini, berapa pemimpin yang sabar terhadap ''kebodohan'' dan kekeliruan pemimpin lainnya? Cara mereka melampiaskan kemarahan bahkan sudah tak menghitung lagi keselamatan bangsa. Jadi, makin jelas, bahwa para pemimpin kita telah mengorbankan bacaan pentingnya demi kesibukan yang serba tidak jelas itu. Alasan kehabisan waktu, terlalu banyak media, juga bisa ditafsirkan sebagai kemalasan jika malah bukan kebohongan. Karena pemimpin cukup menyisakan membaca satu atau dua media terbaik di kelasnya. Media yang dipercayai sebagai baik, pasti akan mati-matian menjaga kebaikannya. Pemimpin harus percaya itu. Jika pemimpin masih enggan membaca medianya, maka bersiaplah bangsa ini menerima takdirnya sebagai bangsa yang bebal terhadap nasihat. Sebagai ilustrasi, bertahun lalu tersebutkah seorang menteri yang dianugerahi gelar kehormatan dari sebuah majalah terkemuka negeri ini. Menteri itu kaget, bukan karena sekalipun ia belum pernah membaca majalah itu, tapi juga karena ia sama sekali tak mengerti jika di negerinya ada majalah semacam itu. Orang bisa jadi takjub pada kesibukan Pak Menteri yang luar biasa itu. Dan itulah yang membuat ia tak akrab pada negerinya sendiri. Maka wajar, jika negeri yang jarang dimengerti oleh pemimpinnya bisa rusak seperti ini. Ya, para pemimpin itu sudah tak punya lagi waktu untuk membaca media, kecuali jika di dalamnya terdapat gosip tentang dirinya, entah itu sebagai tersangka koruptor, entah sebagai biang skandal.
- Prie GS, Budayawan, Penulis Buku Best Seller “Hidup Bukan Hanya Urusan Perut”
Supported by LumbungMedia.com. Diberdayakan oleh Blogger.