Di Sebuah Lomba Gambar

Seperti tahun sebelumnya, setiap perayaan Agustusan tiba, lagi-lagi aku kebagian jadi panitia lomba. Yang paling sering adalah lomba lukis, mungkin karena latar belakangku yang kartunis.

Sebetulnya, dibanding kesibukanku, pekerjaan ini amat menggangu. Untuk mengurus pekerjaanku sendiri saja aku seperti kekurangan waktu. Apalagi harus mengurus pekerjaan kampung seperti ini. Sudah tak dibayar, tombok waktu dan tenaga, tambah mengganggu pekerjan resmi pula. Jadi kalau boleh menghindar, aku jelas lebih suka menghindari. Tapi untunglah, di dunia ini ada soal-soal yang tak bisa kita hindari walau tak kita sukai. Karena ternyata ada sebentuk kegembiraan, yang tersembunyi di balik soal-soal yang kita benci. Maka kusarankan: berhati-hatilah pada kebencian.


Esok hari lomba akan dimulai, malam hari pikiranku sudah penat oleh tumpukan beban. Beban terberat datang dari pikiranku: pikiran menolak apa yang sedang tidak aku ingini. Maka malam itu, menjadi malam yang berat dan aku ingin keburu menjemput pagi. Ingin secepatnya mengerjakan tugas terpaksa ini, bukan untuk rajin, tetapi agar pekerjaan itu rampung secepatnya. Ia seperti meminum obat yang karena kepahitannya, kita buru-buru ingin menelan karena tak punya lain pilihan.

Lomba baru akan dimulai pukul delapan waktu undangan. Disebut waktu undangan karena dari apa yang tertulis di undangan, waktu bisa molor satu hingga dua jam. Tapi kurang satu jam dari waktu yang diundangkan itu, peserta sudah banyak berdatangan. Anak-anak yang hampir semuanya telah bersiap, berdandan dan bersisir rapi. "Anak saya sakit, tapi hari ini memaksa diri sembuh hanya agar bisa ikut lomba ini," kata seorang Bapak. "Anak saya malah semalam tak bisa tidur, keburu ingin pagi," kata Bapak yang lain. Ada bapak, ibu, kakak, mbak, bulik paman, semua menggiring anak-anak itu seperti hendak berangkat ke medan perang.

Jadi inikah lomba yang aku ingin hindari itu, pikirku. Lomba yang oleh anak-anak ditafsirkan dengan begitu penuh sensasi. Hadiahnya tidak seberapa, jumlah juaranya juga cuma untuk sedikit anak saja tetapi kegembiraan yang dibawa lomba ini, sangup membuat anak tidur sambil keburu melihat pagi, membuat anak yang sakit sembuh karena memaksa diri. Rasa bersalahku langsung bergolak. Lomba ini langsung aku mulai tepat waktu dengan semangat tinggi. Jam delapan tepat, waktu udangan, lomba dimulai. Ku ira inilah lomba gambar tingkar RT paling tepat waktu di dunia! Untuk apa? Untuk menghormati anak-anak yang datang juga amat tepat waktu ini. Mereka harus segera mendapat hak-haknya, karena mereka sudah menunaikan kewajibannya.

Begitu menerima kertas gambar, semuanya menjadi amat sibuk, amat serius dan kertas putih itu, bagi anak-anak seperti sebuah arena pertempuran hidup dan mati. Tegang, fokus, serius. Bagi kami, orang tua ini, lomba ini hanyalah sekadar kegembiraan Agustusan, tetapi tidak bagi anak-anak ini. Sekali lagi: inilah lomba yang memaksa mereka bisa sembuh dari sakit dan peristiwa yang terbawa mimpi sehinga memaksa anak-anak rela bangun pagi.

Satu jam saja yang disediakan untuk batas waktu lomba, tetapi ketika waktunya lewat, banyak kertas baru tergambar sebagian saja. Ada kerepotan yang tidak sederhana bagi anak-anak ini untuk menerjemahkan kriteria yang rumit bikinan panitia yang tua-tua ini. Ketika dinyatakan waktu habis, kepanikan merejalela di mana-mana. Tak tega pada keadaan ini, kuputuskan untuk mengubah secara radikal aturan lomba: tak ada batas waktu. Seberapa lama kalian perlu waktu, kami panitia, akan menunggu. Keputusan yang disambut sorak-sorai. Lomba kemudian berlangsung nyaris tanpa aturan. Bapak, ibu, kakak, mbak, seluruh pengantar itu boleh ikt bantu-bantu: ikut mewarnai, menambah ide, mengarahkan, membenarkan... Pokoknya jadilah lomba gambar paling ruwet se Indonesia tapi gantinya ia mendatangkan kegembiraan sedemikian rupa.

Aku melihat seorang bapak harus menggelesot menemani anaknya, seorang ibu harus mengipasi putrinya, seorang kakak menjaga adiknya, seorang paman menyemangati keponakan. Melihat kerukunan semacam itu, aku lupa pada kelelahanku. Pekerjaan yang semulai aku ingin hindari ini akhirnya menjadi pekerjaan yang aku banggai karena akulah ketua panitianya.

- Prie GS, budayawan & penulis bbrp buku best seller -
Supported by LumbungMedia.com. Diberdayakan oleh Blogger.