Menunda Kemarahan

Tubuh itu mirip dokter bagi penyakit. Itulah kenapa ada penyakit yang sembuh dengan sendirinya cuma karena ia dibiarkan. Jiwa itu juga serupa dokter bagi perasaan. Itulah kenapa ada kemarahan yang akan hilang cuma karena dibiarkan.

Saya sering meminta kemampuan ‘’pembiaran’’ untuk meredam, terutama kemarahan-kemarahan saya. Karena inilah perasaan yang paling mengganggu hidup saya. Padahal sumber kemarahan itu rasanya ada di mana-mana. Nonton televisi saja, yang saya sangka akan mendatangkan hiburan, malah suka mendatangkan kemarahan. Melihat kelakuan politisi yang kalah misalnya, sungguh menguji kesabaran. Begitu besar kekecewaan mereka pada diri sendiri sehingga seluruh dunia seperti hendak mereka persalahkan.

Ada juga sebuah reality show tentang seorang yang selingkuh, lalu ditagih hutang lalu mau bunuh diri. Hebatnya, ketika penagih hutang itu datang lalu mengobrak-abrik rumahnya, di situ tepat sedang ada kru televisi. Ketika ia hendak bunuh diri, di situ juga tepat ada kamera telvisi. Untuk mati saja, orang ini butuh disyuting lebih dulu. Ini benar-benar tayangan yang membuat saya marah.


Tetapi apa jadinya jika seluruh kemarahan semacam ini saya layani? Maka deretan kemarahan itu pasti tidak  akan pernah ada rampungnya. Di rumah, di jalan, di tempat kerja, sumber kemarahan itu tersedia dalam jumlah tak terhingga. Di rumah selalu ada saja pemantik kemarahan itu: kunci mobil yang tiba-tiba entah di mana letaknya, anak-anak yang terlalu ramai ketika kita sedang bekerja, atau istri yang masak tapi keliru bumbu.

Keluar di jalan kita sudah akan bertemu klakson yang begitu pekaknya, orang nyalip tanpa aturan, angkot yang berhenti kapan saja dia suka dan orang memekik dalam kemarahan sementara dia sendirilah yang salah jalan. Sampai di tempat kerja kita berhadapan dengan target yang gagal dicapai, wajah atasan yang keruh dan teman sekerja yang menyebalkan. Sementara seluruh mendung sedang berkumpul di atas  kepala eh… ada pula telepon salah sambung dan kasar pula logatnya.

Tidak perlu menunggu waktu khusus untuk menjumpai persoalan seperti ini. Karena soal-soal seperti ini ada dan kita jumpai setiap hari. Tegasnya lagi, itulah isi hidup sehari-hari. Maka jika saya membiarkan diri saya setiap hari terbakar oleh aneka persoalan ini, kolom ini pasti tidak  akan ada karena saya sudah keburu gosong.

Harap Anda tahu, bahkan kolom ini pun saya tulis ketika perasaan saya sedang  diamuk kemarahan. Ini adalah kolom terlama yang pernah saya tulis karena sebagian waktunya saya pakai untuk menunda terus kemarahan yang tengah datang. Saya membutuhkan banyak alat bantu untuk menunda   terus kemarahan itu termasuk dengan cara menulis kolom tentang kemarahan ini sendiri. Butuh berhenti sejenak, ngetik lagi, macet lagi, berhenti lagi, tiduran sebentar, mencoba lagi, macet lagi, istirahat lagi, mencoba lagi. Mungkin kolom ini tidak terlalu bagus, tetapi bahwa ia akhirnya rampung dan benar-benar menjadi alat penunda, adalah bukti yang jauh lebih menggembirakan.

Di dalam penundaan  yang terus menerus itu kemarahan mereda pelan-pelan dan ia bosan dengan dirinya sendiri. Ia ibarat seseorang yang selalu mengejar sementara kita adalah pihak yang selalu berlari. Saya pikir begitu pula watak kesulitan, ia akan kalah oleh  dirinya  jika kita biarkan. Menulis kolom ini memang sulit, tetapi saya hanya butuh istirahat, jalan-jalan, dan tiduran. Saya hanya menunda, tetapi tidak berhenti. Di dalam setiap ketertundaan itulah ternyata aneka kemudahan malah muncul satu demi satu dari tempat persembunyian. Maka jika  engkau marah, langkah pertama adalah: diamlah.

- Prie GS, Budayawan -
Supported by LumbungMedia.com. Diberdayakan oleh Blogger.